Kebangsaan dan akulturasi

Masih perlu, relevankah kebangsaan?

Apakah akulturasi tetap diperlukan?

Itulah dua paparan saya pada hari Kamis 15 September 2016 di Tanjung Selor dalam “Seminar Wawasan Kebangsaan: Memperkuat Nasionalisme dan NKRI di Provinsi Kalimantara Utara” yg diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Pemprov Kaltara.

Dua fotonya (maaf belum ijin pihak2 yg tampak… 🙂 ):

Continue reading “Kebangsaan dan akulturasi”

Meritokrasi

Meritokrasi dimulai dengan rekruitment yang obyektif dan terbuka.

Ini dipraktikkan oleh Desa Gondangrejo secara kebablasan: terlalu sederhana: obyektif dan terbuka seratus persen tapi hanya dengan satu kriteria. Desa ini memilih perangkatnya hanya berdasar test tertulis. Mestinya ada penilaian terhadap pengalaman kerja/berorganisasi/bermasyarakat, tingkat pendidikan dll.

Baca selengkapnya.